Repository Universitas Lampung

EKSTRAKSI, FRAKSINASI DAN IDENTIFIKASI KOMPONEN ANTIBAKTERI BIJI ATUNG (Parinarium glaberrimum Hassk)

Dr. Ir. Murhadi, M.Si., 196403261989021001 (2009) EKSTRAKSI, FRAKSINASI DAN IDENTIFIKASI KOMPONEN ANTIBAKTERI BIJI ATUNG (Parinarium glaberrimum Hassk). Buku Monograf ISBN, 1 (1). pp. 1-115. ISSN ISBN 978-979-8510-08-3

[img] PDF
Restricted to Repository staff only

Download (2793Kb)
    [img]
    Preview
    PDF
    Download (237Kb) | Preview

      Abstract

      Saat ini dan dimasa mendatang, jumlah industri pangan di Indonesia diprediksi akan terus berkembang dan meningkat baik dari segi jumlah maupun ragamnya. Industri pangan dapat dikelompokkan ke dalam industri pangan skala kecil atau industri rumah tangga, skala menengah termasuk industri jasa boga maupun dalam skala besar (pabrikasi) dengan menggunakan teknologi yang tinggi. Seiring dengan peningkatan tersebut, terdapat tiga faktor utama yang saling mendukung dalam menentukan arah dan laju pengembangan industri pangan di Indonesia, yaitu (a) faktor sosial-ekonomi konsumen, (b) faktor kebijakan pemerintah dan (c) faktor ilmu dan teknologi (Anonim, 2003). Faktor sosial-ekonomi berkontribusi pada perkembangan industri dan teknologi pengolahan pangan di Indonesia ini adalah pertumbuhan dan meningkatnya status ekonomi penduduk Indonesia. Selanjutnya, konsumen pangan yang telah mempunyai status ekonomi lebih tinggi tersebut juga akan mempengaruhi perkembangan industri dan teknologi pangan di Indonesia. Faktor kedua adalah kebijakan pemerintah jelas akan ikut pula mendorong perkembangan industri pangan, khususnya dengan adanya insentif-insentif tertentu dan sekaligus juga dengan adanya batasan-batasan tertentu yang harus dipatuhi oleh industri pangan dalam rangka mengembangkan kompetisi yang sehat. Faktor ketiga, yaitu faktor ilmu pengetahuan dan teknologi jelas akan ikut pula memberikan warna pada pengembangan industri dan teknologi pangan di Indonesia (Anonim, 2003). Sejalan dengan perkembangan industri pangan di Indonesia, masalah pengawetan bahan dan produk pangan yang terjadi selama ini menjadi lebih kompleks dengan beragamnya produk-produk pangan baru yang diproduksi dalam jumlah besar dan ketatnya persaingan di antara produk pangan yang menuntut persyaratan daya simpan yang lebih lama dan tidak mudah rusak atau busuk. Saat ini, kecenderungan penggunaan beberapa senyawa pengawet sintetik termasuk senyawa kimia obat sebagai pengawet bahan dan produk pangan komersial juga meningkat dengan alasan relatif murah, mudah didapat dan daya pengawetnya yang relatif tinggi. Namun, tanpa disadari akumulasi dari konsumsi beberapa jenis bahan pengawet kimia sintetik (kimia obat) dalam jenis dan jumlah tertentu diduga kuat dapat mengganggu kesehatan manusia dari skala ringan bahkan sampai berat jika dikonsumsi secara terus-menerus. Sebagai contoh, penumpukan senyawa nitrosoamin dalam tubuh yang dihasilkan dari reaksi antara pengawet sodium nitrat dengan senyawa amin-amin sekunder atau tersier dalam produk bahan dan produk pangan (Farag et al., 1989) diduga kuat sebagai substansi karsinogenik (penyebab kanker) dalam tubuh manusia. Penggunaan beberapa jenis bahan pengawet kimia sintetik di Indonesia masih dalam kontroversi baik dalam jenis maupun dosis yang digunakan, terutama oleh pelaku-pelaku industri rumah tangga dan industri pangan menengah. Atas pertimbangan tersebut banyak tekanan-tekanan terhadap perusahaan pengolahan pangan untuk tidak menggunakan bahan-bahan pengawet kimia sintetik tertentu terutama jenis senyawa kimia obat dan menggantikannya dengan bahan-bahan yang lebih alami untuk tujuan pengawetan. Kondisi ini telah memberi peluang-peluang baru untuk mencari alternatif bahan-bahan pengawet alami untuk diaplikasi sebagai pengawet bahan dan produk pangan yang sesuai. Oleh karena itu, akhir-akhir ini telah banyak dilakukan penelitian dalam rangka pencarian bahan-bahan pengawet pangan alternatif yang bersifat alami dari beragam tanaman. Beberapa kelompok senyawa yang bersifat antimikroba alami yang berasal dari tanaman di antaranya adalah golongan senyawa: 1. Fitoaleksin (Nychas, 1995); 2. Asam-asam organik khususnya asam propionat (Doores di dalam Branen dan Davidson, 1983); 3. Asam-asam lemak dan esternya dalam bentuk monogliserida dan digliserida (Kabara di dalam Branen dan Davidson, 1983; Bautista et al., 1993; Wang et al., 1993; Oh dan Marshall, 1994; Mappiratu et al., 2003; Murhadi et al, 2007; Murhadi dan Suharyono, 2008; Lestari dan Murhadi, 2008); 4. Minyak-minyak esensial atau minyak atsiri (Farag et al., 989; Kim et al., 1995a; Kim et al., 1995b; Sivropoulou et al., 1995; Murhadi, 2001); 5. Fenolik dan beberapa kelompok pigmen tanaman (Taniguchi et al., 1978; Van Chuyen et al., 1982; Sakanaka et al., 1989; Nakayama et al., 1990; Himejima dan Kubo, 1991; Nishina et al., 1991; Serit et al., 1991; Kubo, 1992; Oomah dan Mazzag, 1997; Abram dan Donko, 1999); Haraguchi et al., 1998); dan 6. Alkaloid khusunya dari kelompok senyawa carbazole alkaloid (Bhattacharyya et al., 1993; Chakraborty et al., 1995; Ramsewak et al., 1999). Selama ini banyak peneliti mikrobiologi pangan dalam rangka eksplorasi bahan pengawet pangan alami lebih banyak terkonsentrasi pada jenis-jenis tanaman pangan atau tanaman rempah-obat, namun relatif kurang memperhatikan dari jenis-jenis tanaman hutan (tanaman keras) yang juga diduga berpotensi sebagai sumber bahan-bahan antimikroba alami. Menurut Wilkins dan Board terdapat lebih dari 1389 jenis tanaman yang berpotensi sebagai sumber-sumber bahan antimikroba, termasuk dari kelompok tanaman keras (Nychas, 1995). Salah satu jenis tanaman keras yang berpotensi sebagai substansi pengawet alami adalah tanaman atung (Parinarium glaberrimum Hassk). Tanaman atung diketahui banyak tumbuh di daerah Timur Indonesia terutama di Maluku. Di Maluku dikenal dua jenis pohon atung dengan bentuk luar yang hampir sama. Salah satu jenis atung oleh orang Ambon dikenal dengan nama atung mamina, rasa inti bijinya lebih manis dan berlemak dibandingkan dengan jenis atung lainnya (Heyne 1987). Sampai tahun 1990-an potensi buah atung khususnya bagian bijinya sebagai pengawet pangan ataupun sebagai bahan antibakteri belum banyak diteliti. Skalar et al. (1981) baru meneliti kandungan komponen dalam biji atung. Mereka mengidentifikasi satu jenis asam lemak rantai panjang (unusual fatty acid) dalam bentuk ester asil gliserol yang khas sebagai asam parinarat. Bubuk biji atung telah terbukti dapat mempertahankan kesegaran udang windu dari 4 menjadi 10 jam pada suhu ruang, bahkan sampai dua hari bila dikombinasi dengan bongkahan-bongkahan es (Moniharapon et al.,1993). Sementara ekstrak air biji atung mampu memperpanjang umur simpan pindang ikan mujair dari 1 menjadi 4 hari (Soeherman, 1997) dan serbuk biji atung juga dapat memperpanjang umur simpan ikan mujair dari 3 menjadi 7 hari, sedangkan pada ikan kembung dari 8 menjadi 13 hari (Saragih, 1998). Bagian tanaman atung yang memiliki aktivitas antibakteri adalah bagian biji buah yang berstruktur agak keriput dengan tekstur keras, berwarna cokelat tua dan dilapisi selaput tipis putih (Adawiyah 1998). Selanjutnya Moniharapon (1998) telah melakukan fraksinasi terhadap ekstrak etil asetat dari biji atung dengan kromatografi lapis tipis (KLT-silika gel 60 F254; 10 cm x 2 cm, 0,2 mm) menggunakan lima sistem pengembang, yaitu: (a) heksana:etil asetat (8:2, v/v), (b) heksana:metanol (8:2, v/v), (c) heksana:kloroform (5:5, v/v), (d) heksana:dietil eter (4:6, v/v), dan (e) heksana:etil asetat (7:3, v/v). Bercak fraksi pada pelat KLT dideteksi di bawah sinar UV pada panjang gelombang 254 nm. Hasilnya menunjukkan rata-rata hanya diperoleh 3 fraksi yang terpisah dan 1 fraksi residu yang relatif tidak bergerak dari spot awal. Masalhnya, nisbah pelarut-pelarut pengembang yang digunakan tersebut (Moniharapon, 1998), tampaknya belum mampu memisahkan ekstrak antibakteri dari biji atung secara optimum. Selain itu belum diketahui golongan dan jenis senyawa dominan dalam ekstrak antibakteri biji atung yang berperan sebagai komponen antibakteri. Oleh karena itu di dalam buku ini ditulis secara lengkap dan detail mencakup proses ekstraksi, fraksinasi, pemurnian, uji kemurnian dan karakterisasi (identifikasi) komponen-komponen antibakteri dalam ekstrak antibakteri biji atung, berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah penulis lakukan dan beberapa penelitian sejenis yang dilakukan oleh peneliti-peneliti lain. Bab II buku ini menguraikan selayang pandang tentang tanaman atung (Parinarium glaberrimum Hassk), mencakup uraian tentang morfologi tanaman dan buah atung, komposisi kimia biji atung, dan pemanfaatan biji buah atung yang sudah dilakukan oleh masyarakat serta potensi pengembangannya sebagai bahan pengawet pangan. Bab III menguraikan tentang persiapan bahan, metode ekstraksi dan identifikasi komponen-komponen volatil yang terdapat di dalam biji atung serta prediksi komponen volatil yang bersifat antibakteri. Bab IV, Bab V dan Bab VI, berturut-turut menguraikan ekstraksi, separasi, fraksinasi, pemurnian dan uji kemurnian komponen-komponen antibakteri non volatil dari biji atung. Ekstraksi biji atung dimulai dengan persiapan bahan (pembentukan serbuk biji atung), penurunan kadar lemak/minyak (defatting) serbuk biji atung, dan kajian tahapan ekstraksi terhadap aktivitas antibakteri ektrak organik biji atung. Separasi ekstrak organik biji atung dilakukan dengan metode liquid-liquid batch extraction menggunakan beberapa pelarut organik yang bersifat polar, semipolar dan non polar. Selanjutnya pada tahapan fraksinasi, pemurnian dan uji kemurnian komponen-komponen antibakteri biji atung, dilakukan dengan metode kromatografi menggunakan kromatografi lapis tipis (metode PRISMA; Houghton dan Raman, 1998) dan kromatografi cair kinerja tinggi. Masing-masing hasil ekstraksi, separasi, fraksinasi dan pemurnian komponen antibakteri dari ekstrak biji atung dilakukan pengujian aktivitas antibakterinya dengan metode difusi agar / sumur (Gariga et al., 1983) dan sebagian dilanjutkan dengan pengujian MIC (minimum inhibitory concentration) dan MBC (minimum bactericidal concentration; Muroi et al., 1993; Kubo et al., 1995). Pada bagian terakhir buku ini diuraikan tentang karakterisasi spektroskopi dan identifikasi komponen-komponen antibakteri biji atung dengan metode spektroskopi, menggunakan 3 (tiga) perangkat spektrometer yaitu: spektrofotometer ultra violet-visible, spektrofotometer infra merah dan spektrometer massa (Bab VII). Sebagai penutup pada buku ini (Bab VIII) adalah berupa ringkasan dan kesimpulan akhir dari isi buku ini.

      Item Type: Article
      Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
      Divisions: Fakultas Pertanian
      Depositing User: Dr. Ir. Murhadi , M.Si.
      Date Deposited: 02 Mar 2016 08:32
      Last Modified: 02 Mar 2016 08:32
      URI: http://repository.unila.ac.id/id/eprint/839

      Actions (login required)

      View Item